Minggu, 31 Agustus 2014

Senyummu, Memaafkanku Oleh: Aim El Huroiroh

Senyummu, Memaafkanku
Oleh: Aim El Huroiroh

Ramadan telah menyingsingkan hari demi hari hingga kulewati begitu singkatnya. Bulan malam yang sudah tak tampak semburat sinarnya pertanda angka ganjil mulai berlomba mencari malam seribu bulan. Sembilan hari lamanya untuk menuju kemenangan itu. Kulirik jam yang berada di pergelangan tangan kiriku sudah menunjukkan pukul 22. 34 WIB. Laptop yang berada tepat di hadapanku masih bernafas dengan suara mesinnya. Rasa kantuk tak menggoyahkanku mengerjakan laporan yang harus kukumpulkan besok. Laporan terakhir untuk tugas ujian semester empatku. Semangat segera pulang kampung menikmati suasana bulan suci bersama keluarga tercinta.
Selesai! Hidupku bagaikan burung yang terbebas dari jerat sangkar bebasnya. Terbang bersama angin dan awan di atas hamparan langit biru. Senang dan bersenandung meski hanya sementara. Perasaan senang itu tiba-tiba terusik oleh memori kuning masa lalu bersama kakakku. Hatiku risih dan malu ketika kumulai mengerti apa yang Allah takdirkan kepada kakakku. Dunia seakan membisu dan membisukan fitrah mata hatiku. Kakak yang mengalami dan aku yang berimbas malu. Waktu itu, aku baru kelas tiga SD dan kakak sudah berumur remaja, tanpa kutahu pasti umurnya dan cantik. Aku dan teman-temanku SD bermain di pekarangan rumah sederhana milik orang tuaku. Peta umpet menjadi mainan yang menyenangkan saat itu dan temanku Doni menjadi penunggunya. Kami berpencar mencari tempat persembunyian. Aku bersembunyi di balik meja ruang tamuku. Di sana ada kakak yang sedang menyapu lantai.
“Di mana Ikmal, Kak? Kakak lihat Ikmal?” kata temanku. Takut temanku mengetahui keadaan kakakku, aku sengaja keluar dari bawah meja menunjukkan diri kepadanya. Keesokan harinya setelah kejadian tak sengaja itu, teman-temanku menjauhiku dan sering mengejekku. Aku sangat sedih dan tak punya teman seperti dulu. Hari-hariku membisu, tanpa kicauan burung dan rengekkan jangkrik atau pun desisan angin. Hanya ada diam dari lidah yang tak bergerak. Aku benci kakak, karena kakak aku tak punya teman dan menjadi ejekan omongan. Malu sepanjang aliran waktu selama aku sekolah di SD.
Kebencian kecil itu sebenarnya kupendam tanpa kuutarakan kepada kakakku. Aku masih takut dengan bapak ibuku yang setiap hari mencairkan hati memberi pelajaran-pelajaran hidup, bercerita tentang kisah-kisah yang lucu, dan meminta kami agar selalu menyayangi saudaranya sendiri apapun keadaanya. Bagi kami, entah tanpa perasaan benci itu atau tidak, keluarga adalah bangunan yang saling menguatkan satu sama lain. Jika satu bagian itu retak, yang lain akan ikut rapuh dan jika dibiarkan akan merobohkan setiap puing di dindingnya.
Bagian itu sudah ada yang retak, pikirku kala aku naik ke kelas tiga SMP, enam tahun yang lalu. Aku tak pernah mengerti bagaimana perasaan yang dibumbui iblis ini masih bersemayam di hatiku. Aku tak bisa marah atau pun memberi hinaan sekata pun. Bagiku itu hal yang sangat sia-sia. Aku tak pernah tahu bagaimana kakak menunjukkan cintanya kepada adiknya. Dunia hanya diam melihat tingkahku semakin membahana tak jelas oleh perasaan aneh untuk kakakku sendiri. Kakak yang selalu memberiku sarapan setiap aku akan berangkat sekolah, kakak yang tak pernah bosan menjemputku saat pulang sekolah, dan kakak yang sangat tulus menjagaku dari ganasnnya pancaran matahari, hingga ia rela menggendongku agar kakiku tak terkena jalan aspal yang begitu panasnya di siang hari tanpa peduli punggungnya encok.
Pernah aku berpikir, adakah yang selain dia di dunia ini yang begitu menyayangiku melebihi kedua orang tuaku sendiri? Ya Rabb..., hatiku sangat hina dan sangat keji sempat merasakan benci yang meracuni diriku sendiri. Hukuman apa yang harus kutimpa agar dosaku terhapuskan dan membalas setiap jengkal ketulusannya? Tanpa terasa pipi ini telah lembab oleh deraian air mataku. Mengingat betapa buruknya diriku dulu, membenci kakak yang cantik tanpa pernah cerewet sedikit pun menyayangiku hingga detik ini. Malam ganjil di bulan suci ini membawa lantunan rindu berirama merdu mengalir di lubuk hati ini. Aku ingin sekali memeluknya dan menunjukkannya ke dunia. Akan kutunjukkan inilah kakakku yang cantik yang telah mampu membuatku masuk ke jenjang perguruan tinggi favoritku. Kakakku yang ingin adiknya menjadi orang yang bisa pandai bicara dengan kebenaran. Kebenaran yang benar di hadapan Allah. Kebenaran yang sebenar-benarnya benar.
“Jadilah Kamu manusia yang selalu berbicara benar Mal, itu adalah cita-cita kakakmu yang sangat menyayangimu. Meskipun itu menyakitkan, bicarakanlah dengan sebenar-benarnya.” pesan Ibu sebelum akan masuk ke perguruan tinggi. Ya, saat itu aku sangat tidak yakin bisa meraih impian kakak. Aku harus berkata benar, apapun itu. Aku bingung saat itu, namun hidup dan ketulusan kakakku membuatku harus berani menggapainya. Aku akan mengatakan sebenarnya dengan indra mulutku yang sempurna jika aku pernah memiliki perasaan aneh kala kecilku dulu dan sebagai balasannya aku akan menggapai keinginan kakakku. Aku janji. Aku akan meminta maaf dan memberikannya gaun lengkap dengan jilbab putih yang sangat cantik jika dipakai dirinya di saat kemenangan tiba nanti, aku sangat yakin itu. Namun, kebahagian sesaat itu hanyalah sebuah bayangan saja,
“Benar katamu Mal, dia sangat cantik mengenakan baju dan jilbab putih itu dengan senyumnya yang sangat menawan dan harumnya bagai melati putih yang berasal dari taman Syurga.” kata Ayah di tengah tangisanku yang membuncah. Hatiku tersambat petir yang sangat dasyat dan jiwaku terterjang oleh ombak penyesalan. Air mataku tak hentinya menetes bagai hujan deras di kala musimnya. Kakak benar-benar tak membuka matanya. Mulutnya yang tak pernah mengeluarkan kata sepatah kata pun semasa hidupnya kini dihias oleh lengkungan manis di wajahnya, ya, kakakku sangat cantik. Dan, aku gagal memeluknya ketika seperti ia masih bisa menggendongku, hanya dalam pembaringan ia diam berjuta bahasa, dan aku yakin kakak sedang berbicara yang sebenar-benarmya, jika hidup adalah lorong yang sewaktu-waktu bisa membawamu ke dalam kematian.
“Kakak, aku yakin dengan diammu itu, kau mempunyai berjuta bahasa kasih sayang dalam hati untuk adikmu ini. Dalam diammu itu telah mengurung perkataan kotor dan dusta yang sangat dibenci Allah, Minal Aidzin Wal Faidzin Kak, mohon maaf lahir dan batin ya Kak, maaf aku terlambat.” kucium batu nisan yang telah menutupi tubuhnya. Harum bunga melati Syurga dan senyuman itu membuatku yakin jika kakakku telah memaafkan semua perasaan getir itu, “Terimakasih Kakak...”.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menyayangi Hewan Kesayangan Rasulullah                 Kucing merupakan hewan yang sering berada di sekitar kehidupan dan lingkungan manu...