Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rindu. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Februari 2017

"Pada jeda yang membisu, aku mengerti kau tengah mencipta rahasia" Back Song: Sammy Simorangkir - Rela Kehilangan

Pada jeda yang membisu, aku mengerti kau tengah mencipta rahasia


Aku akhirnya harus lelah untuk tetap ada. Bahkan, kesendirian dan kesepian ternyata terlalu berbaik hati hingga aku tak menyadari ia mampu menyadarkan . Rasanya, hatiku telah berjuang memahami keinginanmu, meski ia sendiri tak tahu luka mana yang tulus menemani.

Aku diam, namun bukan membisu. Kau mungkin tahu seperti apa rasanya memendam rindu yang takpernah bertemu pada ujungnya. Kau seharusnya mungkin mengaku, semakin hening perasaaan ini, semakin jelas ia tergambar di kertas mana berlabuh.

Aku akhirnya mengerti. Terkadang seeorang selalu mempunyai cara untuk memulai perpisahan. Aku mengerti, perasaan ini akhirnya takkan pernah sampai.

“Kita harus terbiasa.” katamu di atas kebingunganku.
Kita masih suka hal-hal yang tersirat, meski hatiku menyimpan sejuta tanda tanya.
“Seperti apa?” balasku.
“Seperti ini.” lanjutmu.  
Kita memilih hening. Kafe mini yang kita pilih untuk bertemu sedang memutar sebuah lagu.
.
.

Tak ku sangka kau tinggalkan aku.
Akhiri semua yang telah berlalu. Tanpa ada satu kesempatan. Ku harus rela kehilanganmu
Begitu perih yang ku rasakan
Lalui hari tanpa hadirmu
Mencoba tuk melupakan
Kaulah yang terdalam menghiasi hidupku

Biarlah kini serpihan hati
Menemani air mataku
Hingga habis dayaku
Untuk selalu mencintaimu...'
.
.

“Oh, apa ini perpisahan?” tanyaku kemudian.
Diam bukanlah jawaban, tapi setidaknya aku semakin mengerti apa keinginanmu.
Dan, lagu masih saja berlanjut.

'Biarlah kini serpihan hati
Menemani air mataku
Hingga habis dayaku
Untuk selalu mencintaimu…'
.
.


“Bukan.” jawabmu akhirnya.
Hatiku semakin sesak, perasaan seperti apa ini, Tuhan? Hatiku menjerit hingga tiada orang yang mendengarnya.

Dan, setelah itu kau pergi, belum pernah kembali lagi.
Pada jeda yang membisu, pada hari-hari yang sepi, pada waktu-waktu tanpamu. Aku harus mengerti, kau tengah mencipta sebuah rahasia, yang tak ingin membuatku terluka demi mengeluarkan air mata.

.
.

Biarlah kini serpihan hati
Menemani air mataku
Hingga habis dayaku
Untuk selalu mencintaimu





Senin, 05 Desember 2016

SENANDUNG RINDU


Gema suaramu menggema, hatiku bergetar
Nada-nada kasihmu bertalu-talu, jiwaku bergerumuh
Wajah teduhmu mendamaikan, mataku bersinar
Bisikan doa-doamu mengeja, ruhku menghebat
Ya Allah …, pada setetes ilmu-ilmuMu
Pada butiran-butiran himmahnya
Pada samudra pengabdiannya
Pada pintu-pintu langit bersinggasana ampunannya
Pada langkah mulia jejak teladannya
Pada waktu yang tak habis oleh kesabarannya
Pada jejak-jejak bening perjuangannya
Pada rasa sayang dan kasih di hatinya
Dari Guru kami, untuk kami
Manusia yang taklayak menjadi abdinya
Ya Allah …, sungguh MahaDasyat kebesaran-Mu
Jika rindu-Mu jauh lebih besar 
Maka, kami pun tak kuasa

Kami pun sangat merindukannya….
Rindu-Mu, rindunya, dan rindu kami
Kami sangat merindunya….


Semarang, PPDD, 16 Juni 2016, 100 hari Abah Kiai Masyrokhan,  



Menyayangi Hewan Kesayangan Rasulullah                 Kucing merupakan hewan yang sering berada di sekitar kehidupan dan lingkungan manu...